Thursday, June 1, 2017

5 Alasan Ekstrim Mengapa Berita HOAX Sulit Diberantas

Di dunia milenial seperti sekarang, banyak berita bermunculan di media-online. Dan tanpa kita sadari, tidak semua berita yang beredar adalah berita yang sebenarnya. Bahkan sebagian ada berita hoax (berita bohong) yang isinya seringkali berisi hujatan, makian, bahkan hasutan bagi pembaca untuk melakukan tindakan anarkis.

Pemerintah dan Kepolisian telah bekerja sama untuk memerangi berita hoax tersebut. Undang-Undang IT juga telah diberlakukan, sehingga menjadi payung hukum yang dapat menjerat orang-orang yang menyebarkan berita atau gambar bohong.

Meski Undang-undang sudah ada, dan Pihak Kepolisian sudah melakukan pengawasan ketat terhadap semua berita yang beredar di media-online, namun tetap saja berita hoax masih terus bermunculan, dengan isi yang makin meresahkan. Sampai-sampai saya berpikir Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi "Bahaya Luar Biasa", karena berita hoax yang bermunculan seolah-olah sudah mengarah pada rencana makar yang membahayakan Pemerintahan Resmi Republik Indonesia.

Sepertinya pikiran saya sama dengan sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga pada akhirnya muncullah slogan "Saya Indonesia, Saya Pancasila" yang didengungkan Presiden RI Joko Widodo agar Bangsa Indonesia bersatu dan ingat kembali dengan Dasar Negara kita.

Dari pengamatan saya, ternyata ada 10 Fakta Ekstrim yang menjadi alasan mengapa Berita Hoax menjamur dan sangat meresahkan masyarakat belakangan ini.

Dan berikut ini faktanya : 

1.  UANG
Mengapa banyak orang yang membuat berita hoax? Apakah mereka teroris? Atau ekstrimis yang mencoba menggulingkan Pemerintahan yang sah? Mungkin ada. Tetapi dari penelusuran saya, ternyata alasan orang membuat berita hoax tidak lain adalah UANG.

Sudah bukan rahasia lagi kalau kini internet telah menjadi ladang uang yang sangat menjanjikan. Selain sebagai tempat transaksi jual-beli, internet juga bisa menjadi mesin uang bagi Anda yang gemar menulis. Anda bisa menulis dan memposting tulisan Anda di Internet. Jika ada sejumlah tertentu orang membaca tulisan tersebut, maka Anda akan mendapatkan uang. Dan jika pembaca artikel atau blog Anda cukup banyak, maka akan ada Sponsor atau Pemasang Iklan yang beriklan di blog Anda. Dan hasil dari iklan itu akan Anda terima. Keren kan?

Masalahnya : Bagaimana mengundang pembaca untuk membaca blog Anda?

Ada yang menggunakan cara "tradisional" (seperti saya, yang menginformasikan di sosmed, atau Fanpage), tetapi ada juga yang ekstrim : Menulis berita bohong dengan isi yang provokatif, lalu mengunggahnya ke sosmed.

Tentu berita ekstrim, disertai gambar, tulisan, bahkan video (kalau ada dan kalau perlu) akan lebih mudah mengundang banyak orang untuk membuka, membaca, dan membagikannya. Dan tidak butuh waktu lama, pembaca postingan itu akan banyak dan Penulis akan mendapatkan imbalan uang yang tidak terhingga.

Saya sempat membaca sebuah artikel investigasi, ada seorang penulis sosmed yang secara rutin mengepos 60 - 80 artikel berita bohong setiap harinya, dan dia mendapatkan imbalan uang senilai Rp 40 - 50 juta sebulan dari internet. Bayangkan....  !!!!

Jadi jika Anda masih pikir Penulis berita Hoax adalah seorang ekstrimis atau teroris, berarti Anda keliru besar. Isi konten yang dibuatnya tidak ada hubungannya dengan ideologi. Yang dia lakukan hanya sekedar menulis dan mencari uang, tanpa berpikir jauh risiko yang akan terjadi ketika tulisannya menjadi viral.



2.  PERASAAN MASYARAKAT INDONESIA MUDAH "DIPERMAINKAN"
Alasan lain mengapa berita hoax cepat beredar adalah emosi masyarakat Indonesia sangat mudah untuk dipermainkan. Ga percaya? Coba Anda buka sosmed Anda, dan bacalah sebuah berita. Ketika berita itu menulis, "Katakan Amin, Klik 'Like', dan bagian berita ini," apakah Anda akan membagikan berita tersebut? Sekitar 70 - 80% mungkin akan mengiyakan. Terlebih kalau isi beritanya adalah sebuah doa atau gambar yang mengharukan (anak yang mati kelaparan, disiksa orang tuanya, dan lain-lain).

Tanpa kita sadari, ketika membagikan berita itu, kita sudah "membantu" Penulis berita untuk menyebarkan kabar bohongnya. Dan - tentu saja - selain membantu Penulis untuk "membohongi" orang lain, Anda pun telah membantu Penulis untuk mendapatkan uang dengan cara yang tidak jujur.

Meski masyarakat Indonesia adalah orang terpelajar, tetapi seringkali mereka mudah sekali terintimidasi berita-berita berkonten negatif atau provokatif. Terutama sekali kalau sudah menyerempet masalah Agama, Politik, Kebangsaan, dan Gender. Saat emosi sudah mengendalikan diri, mereka tidak akan berpikir lagi untuk melakukan "counter-check" berita yang mereka baca. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya orang lain tahu, lalu punya kesamaan pikiran dengannya, dan mencari cara untuk "membalas". Dan cara yang paling sederhana adalah : Sebarkan berita tersebut !!!

Jadi jika Anda sebarkan, maka selamat : Anda baru saja membantu Penulis mendapatkan uang dengan cara yang sangat keji.



3. MASYARAKAT INDONESIA MUDAH TERPROVOKASI
Berita apa yang paling disukai banyak orang? Berita gosip? Ya. Tapi ada yang lebih disukai lagi, yaitu : Berita Provokatif. Buatlah berita dengan judul ekstrim, seperti Penistaan Agama, Penghinaan Lambang Negara, Kasus Esek-esek, dan sejenisnya, maka hanya butuh waktu beberapa jam saja, berita itu sudah tembus ratusan ribu viewer dan ribuan kali share.

Selain punya hati yang "lembut' dan mudah dipermainkan, Masyarakat Indonesia pun rupanya adalah orang yang mudah terprovokasi. Seringkali - saat membaca judul berita yang berkonotasi ekstrim dan kontroversial - nalar sudah tidak dipergunakan, sehingga emosilah yang dengan cepat menguasai. Tanpa pikir panjang, dan tanpa melakukan cross-check, Pembaca akan langsung memaki-maki (entah memaki siapa, tidak jelas), sambil membagi-bagikan / memviralkan berita tersebut.

Tanpa mereka sadari, berita hoax itu menyebar dengan sangat cepat, dan - sekali lagi - menguntungkan Penulis.



4. PENGAWASAN BERITA ONLINE MASIH SANGAT LEMAH
Salah satu alasan mudahnya berita hoax beredar di sosmed dan dunia maya tidak terlepas dari masih lemahnya pengawasan berita online di Indonesia. Berita atau artikel yang dibuat akan dengan mudah tampil di dunia maya, tanpa perlu seleksi. Sama seperti artikel yang saya buat sekarang. Begitu saya klik "Publish", maka detik itu pula artikel saya akan menyebar di dunia maya tanpa bendungan sama sekali.

Kita bisa membandingkan kondisi Indonesia dengan Tiongkok. Di Negara Tirai Bambu itu, hampir semua situs dari luar Tiongkok diblok. Orang hanya bisa menggunakan situs berselancar dunia maya produksi Tiongkok (misalnya : Baidu.com). Itu pun sebelumnya harus mengizinkan Baidu "merasuki" komputer atau laptop Anda. Anda bisa menulis berita atau artikel apapun saat menggunakan situs itu. Tetapi saat akan dipublikasikan untuk umum, artikel itu akan mengalami penundaan tayang beberapa saat untuk diperiksa kontennya secara sistem. Jika sistem menemukan beberapa kata, ungkapan, atau konten "provokasi" (meski sebenarnya hanyalah kiasan), maka beberapa jam setelah menulis artikel, Polisi akan menciduk dan membawa Anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal artikel yang Anda tulis. Jika terbukti sebagai tulisan "provokasi" yang dianggap membahayakan keamanan negara, Penulis bisa diganjar hukuman berat (minimal kurangan 10 tahun penjara).

Indonesia masih tergolong sangat "santun", di mana seorang Penulis Berita Hoax atau tulisan yang mengandung konten kebencian, masih bisa dikenai teguran atau hukuman 1 - 2 tahun penjara saja. Selain itu, Kepolisian baru bertindak setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, sehingga ada kemungkinan Penulis Berita Hoax bisa saja dengan bebas menulis puluhan berita bohong tanpa kuatir diciduk maupun ditangkap polisi, selama tidak ada pihak yang melaporkannya.



5.   RASIS MASIH MENJADI "BUDAYA" 
Adalah sebuah tindakan yang sangat tepat ketika Indonesia memilih semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sebagai bentuk pernyataan penerimaan keragaman budaya dan suku-bangsa yang sangat beragam. Sayangnya, ada sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya menerima semboyan itu sebagai bagian hidupnya.

Mengapa demikian?

Ini tidak lain karena peninggalan masa lalu - saat penjajahan Hindia Belanda - di mana VOC menggunakan teknik "devide et impera" (teknik memecah belah) agar bangsa Indonesia saling curiga sehingga mudah untuk disusupi dan dikuasai. Rupanya teknik ini sangat ampuh, dan berhasil menimbulkan kecurigaan sebagian masyarakat Indonesia pada suku tertentu, meski berakar hingga anak-cucu turun-temurun. Tanpa kita sadari, Rasis pun menjadi "budaya" yang tidak dapat terhindarkan.

Di Zaman Milenial seperti ini, adalah sangat bijak ketika kita dapat memandang semua orang - berbeda suku, agama, dan kebangsaan - setara dan sejajar. Tidak perlu ada kecurigaan, kekuatiran, apalagi kebencian tanpa dasar. Terlebih ketika kita sudah menyadari keberagaman suku-bangsa sebagai kekayaan budaya, Bhinneka Tunggal Ika sudah bukan lagi semboyan, tetapi bagian hidup, dan tarikan nafas kita.

Jadi... Mari Buka Hati, Buka Mata, dan Buka Pikiran.

Kita adalah Satu.

Kita adalah Indonesia.

Kita adalah Pancasila.

Berita Hoax boleh saja terus beredar untuk memecah-belah kita. Tetapi ingatlah : Kita Bhinneka Tunggal Ika. Kebersatuan kita tidak akan mudah terpecah hanya karena berita bohong yang disebarkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang ingin meraup keuntungan dari perpecahan kita.